Apa Penyebab Anak Hiperaktif? Temukan Jawabannya di Sini!

Apa Penyebab Anak Hiperaktif? Temukan Jawabannya di Sini!

2 bulan yang lalu
Dibaca 553
5 Menit membaca

Anak yang sehat pasti akan aktif bergerak dan bermain. Orangtua juga tentu senang melihat anaknya yang bergerak lincah. Anak yang sering berlarian dan berteriak juga kerap dianggap normal karena dianggap belum dewasa dan belum bisa mengendalikan diri. Namun, jika anak menjadi terlalu aktif, mungkin orangtua perlu merasa khawatir.

Segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik, termasuk untuk anak yang terlalu aktif. Terlebih jika keaktifan anak justru membuat ia menjadi tidak bisa diam, sulit dikendalikan, dan membuatnya kehilangan fokus. Ada kemungkinan anak mengalami hiperaktif.

Apa Itu Anak Hiperaktif?

Ibu mungkin pernah mendengar istilah anak hiperaktif. Tapi, sudahkah Ibu memahami apa yang dimaksud dengan anak yang hiperaktif?

Hiperaktif atau hiperaktivitas adalah kondisi yang membuat lebih banyak bergerak dan berulang, sering bertindak impulsif, fokus yang pendek, serta perhatian yang mudah teralihkan. Lalu, apakah anak hiperaktif normal?

Anak-anak aktif bergerak merupakan hal yang biasa dan wajar, tapi apabila sudah termasuk anak hiperaktif, hal itu tidak bisa dikatakan normal. Anak hiperaktif berarti sudah sulit untuk dikendalikan bahkan oleh orang dewasa di sekitarnya, termasuk guru dan juga orangtua.

Penyebab Anak Hiperaktif

Hal lain yang kerap menjadi pertanyaan adalah apa penyebab anak hiperaktif. Anak hiperaktif adalah kondisi tertentu yang muncul karena suatu hal. Beberapa kondisi yang dapat menjadi penyebab seorang anak mengalami hiperaktif di antaranya:

Sering kali anak hiperaktif disamakan dengan anak yang memiliki kondisi ADHD atau gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas. Hal tersebut tidak sepenuhnya benar karena meskipun ADHD adalah salah satu hal yang dapat menyebabkan kondisi hiperaktif pada anak, anak hiperaktif tidak otomatis memiliki ADHD. Sementara kondisi hiperaktif hanyalah salah satu gejala dari anak yang memiliki ADHD.

Untuk mengetahui apakah anak hiperaktif memiliki ADHD dapat dengan memperhatikan beberapa pertanyaan berikut ini:

  • Apakah anak menjadi kerap mengganggu?
  • Apakah anak mengalami kesulitan dalam mengikuti instruksi atau menyelesaikan tugas?
  • Apakah anak menjadi sering lupa?
  • Apakah anak menjadi lebih tidak sabar?
  • Apakah anak menjadi sering berbicara dan memotong pembicaraan orang lain?

Apabila jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah iya dan terjadi dalam waktu lama bahkan di sekolah maupun di rumah, maka perlu diwaspadai bahwa anak memiliki ADHD.

Tanda-tanda Anak Hiperaktif

Anak dengan kondisi hiperaktif biasanya ditunjukkan dengan cara anak melakukan gerakan secara konstan dan berulang, terkadang melakukan gerakan impulsif, juga fokus yang mudah terganggu dan sulit berkonsentrasi, dan dapat bersikap agresif.

Perilaku hiperaktif pada anak seringkali muncul sejak Si Kecil masih berusia dini. Bahkan terkadang sudah terlihat ciri anak hiperaktif usia 4 tahun. Tanda-tanda yang bisa diperhatikan seperti:

1. Sering melakukan gerakan gelisah dan konstan

2. Bergerak atau berlarian kesana kemari

3. Lebih banyak bicara dibandingkan anak seusianya

4. Mengalami kesulitan dalam melakukan kegiatan yang membutuhkan ketenangan, seperti membaca.

Kondisi anak hiperaktif sebenarnya tidak mudah didefinisikan karena perilaku yang tampak berlebihan mungkin tampak normal bagi orang lain. Meski demikian, jika dibandingkan dengan anak lain pada umumnya anak hiperaktif tetap terlihat jauh lebih aktif.

Selain itu, terkadang anak hiperaktif dianggap sama dengan anak superaktif. Padahal, keduanya adalah hal yang berbeda. Anak superaktif hanya lebih aktif karena memiliki lebih banyak energi. Anak superaktif tidak termasuk dalam kondisi mental khusus, juga tidak memiliki kesulitan dalam berkonsentrasi, yang merupakan salah satu ciri anak hiperaktif.

Beberapa perbedaan anak hiperaktif dan superaktif atau anak aktif di antaranya:

  • Kemampuan fokus. Anak aktif dan superaktif dapat fokus pada satu hal, sedangkan anak hiperaktif sulit fokus dan susah berkonsentrasi.
  • Cara bicara. Anak aktif dan superaktif lebih mudah diajak berbicara dibandingkan anak hiperaktif yang banyak bicara dan sering memotong pembicaraan.
  • Pengendalian emosi. Anak aktif dan superaktif bisa menjaga emosi dan perasaannya, seperti menahan tangis, sedangkan anak hiperaktif lebih sensitif dan mudah frustasi dengan emosi yang muncul.
  • Hubungan sosial. Anak aktif dan superaktif tidak kesulitan dalam mengikuti instruksi, sedangkan anak hiperaktif cenderung sulit bekerja sama atau mengikuti instruksi.
  • Rasa lelah. Anak aktif dan superaktif akan beristirahat bila merasa lelah, sedangkan anak hiperaktif cenderung memiliki waktu tidur pendek dan dapat mengalami ledakan energi di malam hari.

Tips Menangani Anak Hiperaktif

Kondisi hiperaktif dapat mengganggu keseharian anak itu sendiri. Selain itu, anak hiperaktif sering dianggap lebih sebagai masalah bagi orang-orang di sekitarnya, termasuk oleh teman sebaya di sekolah. Hal itu dapat membuat anak tidak bahagia dan depresi.

Perilaku hiperaktif juga dapat membuat anak menjadi sasaran intimidasi karena dianggap berbeda dan mengganggu. Anak hiperaktif juga sering sulit menyelesaikan tugas sekolah dan berujung mendapat hukuman. Karenanya, diperlukan cara menangani anak hiperaktif sebagai berikut:

1.   Terapi

Menangani anak hiperaktif bisa dengan memberikan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau terapi perilaku kognitif. CBT bertujuan untuk mengubah pola pikir dan perilaku anak hiperaktif. Selain itu, bisa juga dengan terapi berbicara yang melibatkan diskusi antara anak dengan ahli terapi. Penanganan terapi lebih tepat untuk gejala hiperaktif yang disebabkan oleh kondisi psikologis.

2.   Obat-obatan

Selain dengan terapi, kondisi hiperaktif yang disebabkan gangguan fisik, seperti sistem saraf, otak, dan tiroid, membutuhkan bantuan obat-obatan. Pemberian obat-obatan dimaksudkan untuk memberi efek penenang. Pemberian obat-obatan harus dengan pengawasan dari dokter atau spesialis kesehatan mental.

Selain terapi dan obat, mengatasi anak hiperaktif bisa dengan menjauhkan Si Kecil dari stimulan yang dapat memicu gejala hiperaktif, seperti asupan yang mengandung kafein. Berikut ini beberapa tips lain untuk menangani anak hiperaktif:

  • Jauhkan dari hal yang dapat mengganggu konsentrasi anak;
  • Ajak anak berolahraga rutin atau aktivitas fisik lainnya agar anak belajar menyalurkan energi sekaligus disiplin dan kontrol diri;
  • Ajarkan anak mengikuti jadwal harian yang terstruktur dan sederhana;
  • Buat peraturan yang lebih jelas dan konsisten;
  • Ajarkan anak meredam amarah dan tidak bersikap agresif;
  • Beri asupan makanan bergizi untuk bantu menjaga kesehatan anak.

Anak hiperaktif tetap membutuhkan asupan nutrisi harian agar dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal. Salah satunya Ibu bisa memberikan nutrisi tambahan dari susu PediaSure.

PediaSure dilengkapi dengan Triple Protein kompleks dengan 42% sukrosa yang lebih rendah, serta diperkaya DHA dan AA, Omega 3 & 6, juga kandungan 14 vitamin dan 9 mineral yang baik untuk bantu tumbuh kembang Si Kecil.

Demikian penjelasan mengenai anak hiperaktif yang semoga bisa bermanfaat bagi Ibu dan juga Si Kecil.

 

 

 

SUMBER: 

Hyperactivity - Medline Plus. Retrieved on November 6, 2022 from https://medlineplus.gov/ency/article/003256.htm 

What You Should Know About Hyperactivity - Healthline. Retrieved on November 6, 2022 from https://www.healthline.com/health/hyperactivity 

Why Is My Child So Hyper? - Web MD. Retrieved on November 6, 2022 from https://www.webmd.com/parenting/why-child-hyper 

Kenali 5 Perbedaan Anak Aktif dan Anak Hiperaktif - Hermina Hospitals. Retrieved on November 6, 2022 from https://herminahospitals.com/id/articles/kenali-5-perbedaan-anak-aktif-dan-anak-hiperaktif