Anak Picky Eater? Begini Cara Mengatasinya!

Anak Picky Eater? Begini Cara Mengatasinya!

8 bulan yang lalu
Dibaca 2,76 ribu
5 Menit membaca

Sebagai orang tua, tentunya ibu ingin anak tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat. Salah satu faktor paling penting untuk mencapai hal itu adalah membiasakan anak menjalani pola makan seimbang dan bergizi.

Namun di sisi lain, anak masih belajar menikmati rasa-rasa yang berbeda dan jika tidak dibiasakan mengonsumsi makanan yang beragam, anak menjadi senang memilih-milih makanan. Memilih-milih makanan atau picky eater merupakan tantangan yang nyata. Akibatnya, wajar jika ibu khawatir tentang kebiasaan makan anak yang pilih-pilih.

Konsekuensi dari anak yang picky eater dapat jadi masalah serius dalam jangka panjang. Apalagi jika pilihan makanan yang disukainya tidak bernutrisi sehingga asupan pola makannya tidak seimbang. Bukan tidak mungkin masalah kesehatan muncul di kemudian hari akibat kekurangan gizi.

Untuk itu, mari kenali alasan mengapa anak menjadi picky eater dan mengapa hal itu lazim terjadi. Namun sebelumnya, sebaiknya ibu mengetahui picky eater itu apa?

Apa Itu Picky Eater?

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, picky eater adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan anak yang sulit makan. Biasanya, kondisi ini terjadi pada anak usia 1-3 tahun dan dapat menjadi masalah bukan hanya bagi anak, tapi juga orang tua. Tidak hanya menolak makanan tertentu, anak picky eater juga cenderung memilih untuk mengonsumsi makanan tertentu baik yang sudah dia kenal maupun belum namun dalam jumlah yang tidak cukup.

Seorang picky eater biasanya masih mau mengonsumsi minimal satu macam makanan dari setiap kelompok karbohidrat, protein, sayur/buah, dan susu. Namun, jika kebiasaan ini berlanjut, anak bisa mengalami kekurangan gizi terutama jika anak termasuk ke dalam selective eater yang bahkan menolak segala jenis makanan dalam kelompok nutrisi tertentu.

5 Faktor Penyebab Picky Eater pada Anak

Sementara itu, perilaku picky eater pada anak tidak berasal dari satu faktor saja melainkan gabungan dari beberapa faktor. Berdasarkan penelitian, berbagai faktor yang dapat membuat anak menjadi picky eater, antara lain:

1. Faktor yang jadi prediktor memicu anak jadi picky eater

Usia saat ibu hamil, status merokok, kelas sosial, level pendidikan, indeks massa tubuh sebelum hamil, kesenjangan sosial, serta jenis kelamin dan berat bayi. Faktor-faktor ini sangat terkait dengan meningkatnya kemungkinan anak memiliki perilaku picky eater.

2. Faktor terkait anak

Level temperamen dan sensitivitas inderawi dapat mempengaruhi perilaku picky eating pada anak. Anak dengan tingkat sensitivitas inderawi dan emosional memiliki risiko tinggi menjadi anak yang picky eater.

3. Faktor pola makan usia dini

Durasi konsumsi ASI yang pendek dan keterlambatan memulai MPASI bisa jadi hal yang memicu perilaku picky eating pada anak nantinya. Sebaliknya, perkenalan dini dengan sayuran dapat melindungi anak dari perilaku picky eating, sementara perkenalan makanan atau makanan padat lainnya belum terbukti berkaitan dengan picky eating.

4. Faktor orang tua

Pola makan ibu hamil dan kebiasaan makan yang positif berperan penting dalam mencegah anak menjadi picky eater. Di sisi lain, tekanan untuk makan saat hamil berhubungan dengan perilaku picky eating pada anak serta kekhawatiran soal berat badan anak.

5. Faktor genetik

Neofobia makanan atau rasa takut mencoba makanan baru pada orang tua dapat diwariskan pada anak-anak meski pengaruhnya berada dalam level sedang.

Perilaku picky eater juga dapat memicu berbagai dampak negatif pada anak nantinya. Dampak yang cukup signifikan terasa pada pola makan dan asupan nutrisi anak. Perilaku ini dapat mengakibatkan penurunan asupan nutrisi, variasi pola makan yang kurang baik, dan distorsi asupan nutrisi. Seorang picky eater pada umumnya memiliki pola makan dan jenis makanan yang dikonsumsinya tidak variatif, terutama pada usia 24-36 bulan.

Studi jangka panjang menunjukkan bahwa picky eater mengonsumsi daging, ikan, buah, dan sayur lebih rendah dari pada anak-anak yang tidak pilih-pilih makanan. Imbasnya, asupan zat besi, zinc, karoten, dan serat makanan juga jadi lebih rendah. Meski demikian, asupan energi pada anak-anak picky eater cenderung cukup.

Dari segi kesehatan dan tumbuh kembang anak, pilih-pilih makanan juga memiliki konsekuensi di mana anak berisiko mengalami kekurangan berat badan dan pertumbuhan yang terhambat. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kombinasi kurangnya asupan energi dengan zinc dan zat besi.

Picky eater juga cenderung mudah sembelit. Meski sembelit merupakan kondisi yang umum dialami anak-anak, namun angka potensi sembelit meningkat 30% daripada anak-anak yang tidak pilih-pilih makanan. Utamanya disebabkan oleh kekurangan asupan serat makanan.