Anemia pada Anak: Penyebab, Ciri-Ciri, dan Cara Mengatasinya

Anemia pada Anak: Penyebab, Ciri-Ciri, dan Cara Mengatasinya

11 bulan yang lalu
Dibaca 8,4 ribu
5 Menit membaca

Anemia adalah kasus gangguan pada darah yang umum terjadi akibat kekurangan sel darah merah. Pada anak, anemia dapat menyebabkan mereka lesu dan tidak bersemangat dalam beraktivitas. Kasus anemia pada anak pun cukup jamak terjadi. Menurut Kemenkes, 1 dari 3 anak di bawah lima tahun di Indonesia mengalami anemia.

Anak-anak memang menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terhadap kondisi anemia, khususnya karena defisiensi besi. Anemia bisa menyebabkan masalah pada tumbuh kembang anak jika tidak segera diobati.

Untuk memahami lebih lanjut tentang anemia yang terjadi pada anak, simak penjelasan berikut.

Apa Itu Anemia?

Anemia adalah kondisi ketika sel darah merah di dalam tubuh berkurang di bawah normal. Dalam konteks anemia pada anak, jumlah sel darah merah tidak sesuai dengan rata-rata usia anak.

Sel darah merah atau eritrosit merupakan jenis darah yang diisi dengan hemoglobin atau protein berpigmen khusus. Protein ini bertugas membawa oksigen ke sel lain di dalam tubuh.Mengingat sel-sel pada otot dan organ membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup, penurunan jumlah sel darah merah pun bisa memberi tekanan pada tubuh.

Anemia bisa dibagi ke dalam beberapa jenis, antara lain anemia mikrositik, anemia makrositik, hingga anemia defisiensi besi. Pada anak, yang paling umum terjadi adalah anemia defisiensi besi karena tubuh kekurangan zat besi.

Zat besi merupakan mineral penting yang bertugas memproduksi hemoglobin dan berperan dalam metabolisme tubuh, sistem oksidasi, perkembangan dan fungsi saraf, koneksi sistem jaringan, hingga sintesis hormon.

Ciri-ciri Anemia pada Anak

Gejala anemia yang terjadi pada anak bervariasi. Anemia bisa memiliki gejala spesifik dengan sebab tertentu, tetapi sebagian besar lainnya tidak spesifik. Gejala anemia juga bisa terjadi karena berhubungan dengan penyakit lain. Ciri-ciri anemia yang paling sering ditemui, yakni antara lain:

  • Kulit, bibir, tangan, atau kelopak mata bawah tampak pucat
  • Detak jantung meningkat (takikardia)
  • Sesak napas atau kesulitan menarik napas (dyspnea)
  • Kekurangan energi atau mudah lelah (kelelahan)
  • Pusing atau vertigo, terutama saat berdiri
  • Sakit kepala
  • Mudah marah
  • Siklus haid tidak teratur
  • Menstruasi tidak ada atau tertunda (amenore)
  • Lidah sakit atau bengkak (glositis)
  • Penyakit kuning atau kulit, mata, dan mulut terlihat menguning
  • Pembesaran limpa atau hati (splenomegali, hepatomegali)
  • Pertumbuhan dan perkembangan yang lambat atau tertunda
  • Gangguan penyembuhan luka dan jaringan

Selain mengetahui ciri-ciri anemia pada anak, orangtua juga perlu mengetahui faktor-faktor yang membuat anak rentan terkena anemia. Berikut beberapa faktor risiko anak mengalami anemia:

  • Kelahiran prematur atau berat lahir rendah
  • Ketidakmampuan untuk membeli makanan yang kaya zat besi
  • Mengonsumsi susu sapi pada usia dini (balita dapat mengalami anemia defisiensi besi jika terlalu banyak minum susu sapi)
  • Pola makan rendah zat besi, vitamin, atau mineral
  • Pembedahan atau kecelakaan dengan kehilangan darah
  • Terkena infeksi
  • Penyakit ginjal atau hati
  • Riwayat keluarga anemia yang diturunkan, paling sering anemia sel sabit

Penyebab Anemia pada Anak

Seperti disebutkan di atas, anemia disebabkan oleh sel darah merah di dalam tubuh yang berkurang di bawah batas normal.

Sel darah merah diproduksi di sumsum tulang. Umur sel darah merah rata-rata 100 hingga 120 hari. Sumsum tulang rata-rata dapat menghasilkan 2 juta sel darah merah setiap detik. Di sisi lain, jumlah yang kira-kira sama juga dikeluarkan dari peredaran. Terdapat sekitar 1 persen sel darah merah yang dikeluarkan dari peredaran tubuh dan diganti setiap hari.

Ketika terjadi ketidakseimbangan antara produksi dan penghancuran sel darah merah, seseorang dapat terkena anemia. Meski begitu, mencari penyebab anemia bisa tergantung pada jenisnya, seperti kondisi bawaan atau genetik yang memengaruhi pembentukan atau fungsi sel darah merah.

Sebagai contoh, anemia defisiensi besi pada anak yang biasanya terkait dengan keterlambatan orangtua dalam memperkenalkan pola makan yang kaya akan zat besi atau suplemen zat besi. Selain itu, alergi makanan dan kesulitan lainnya juga dapat menyebabkan anemia. Kekurangan nutrisi yang dapat menyebabkan anemia, meliputi zat besi, asam folat, atau vitamin B12.

Adapun berkurangnya sel darah merah atau hemoglobin bisa disebabkan oleh sel darah merah cacat yang diturunkan, infeksi, obat-obatan tertentu, hingga penyakit tertentu.

Kemudian, ada juga faktor penyakit bawaan yang bisa menyebabkan beberapa jenis anemia, seperti anemia Fanconi, talasemia, dan anemia sel sabit. Penyakit autoimun, kanker tertentu, dan kondisi tubuh setelah berdarah bisa pula menyebabkan anak mengalami anemia.

Cara Mengatasi Anemia pada Anak

Penanganan terhadap anak yang anemia tergantung pada gejala, usia, kesehatan, dan tingkat keparahan anemia yang diderita anak.

Beberapa kasus anemia tidak membutuhkan penanganan lebih lanjut. Namun, beberapa jenis anemia lainnya mungkin memerlukan obat, transfusi darah, pembedahan, hingga transplantasi sel punca.

Cara mengatasi anemia pada anak yang disebabkan defisiensi besi adalah lewat suplemen zat besi dan perubahan pola makan. Jika suplemen zat besi diperlukan, dokter akan merekomendasikan formulasi dan dosis khusus berdasarkan usia dan tingkat kekurangan zat besi anak.

Dalam kasus yang lebih ringan, dokter mungkin menyarankan untuk menambah jumlah makanan yang diperkaya zat besi dalam makanan anak. Beberapa makanan yang kaya akan zat besi, seperti daging merah, seafood, unggas, telur, sereal yang diperkaya zat besi, kacang dan lentil, hingga sayuran berdaun hijau gelap.

Selain menambahkan makanan kaya akan zat besi ke dalam makanan anak, orangtua juga bisa menyiapkan makanan yang kaya vitamin C dan bermanfaat meningkatkan penyerapan zat besi dalam tubuh.

Beberapa makanan yang kaya akan vitamin C, antara lain buah sitrus, beri, pepaya, tomat, ubi jalar, brokoli, kubis, dan sayuran berdaun hijau gelap.

Tidak hanya itu, orangtua bisa memberikan asupan nutrisi tambahan untuk menjaga kondisi tubuh anak. Salah satu contohnya adalah PediaSure yang diformulasikan untuk anak usia 1-10 tahun.

Pediasure mengandung zat besi, prebiotik FOS dan probiotik, zinc, dan selenium. Gabungan nutrisi ini bisa membantu menjaga daya tahan tubuh anak.

Kandungan triple protein, 14 vitamin dan 9 mineral, campuran minyak nabati, kalsium, fosfor, dan vitamin D yang tinggi juga bisa ditemukan dalam Pediasure. Kombinasi ini dapat mendukung pertumbuhan tinggi dan berat badan si kecil secara optimal.

Selain itu, PediaSure juga diperkaya dengan DHA dan AA serta Omega 3 dan Omega 6. Jenis nutrisi ini dapat mendukung perkembangan kognitif anak. Kini, Pediasure mengandung 42% sukrosa lebih rendah dan formulasi sebelumnya tapi tetap lezat dengan varian rasa Vanila, Madu, Cokelat, dan Classic Milky.

Itulah penjelasan anemia pada anak, dari penyebab, gejala, hingga cara mengatasinya. Mari hindarkan anak dari anemia dengan mencukupi kebutuhan zat besi dan beri PediaSure 2-3 kali sehari ya, Bu!

 

 

 

SUMBER:

Anemia Defisiensi Besi pada Anak - Yankes Kemkes. Retrieved February 10, 2023 from https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/182/anemia-defisiensi-besi-pada-anak 

Anemia in Children and Teens: Parent FAQs - Healthy Children. Retrieved February 10, 2023 from https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/chronic/Pages/Anemia-and-Your-Child.aspx# 

Anemia in Children - Boston Children's Hospital. Retrieved February 10, 2023 from https://www.childrenshospital.org/conditions/anemia 

Anemia in Kids: What to Know - WebMD. Retrieved February 10, 2023 from https://www.webmd.com/children/anemia-in-kids-what-to-know 

Anemia: Causes, Symptoms, and Treatment - Healthline. Retrieved February 10, 2023 from https://www.healthline.com/health/anemia#causes