10 Ciri-Ciri Stunting yang Wajib Diwaspadai

10 Ciri-Ciri Stunting yang Wajib Diwaspadai

8 bulan yang lalu
Dibaca 8,7 ribu
5 Menit membaca

Stunting atau kekurangan gizi kronis pada anak adalah masalah kesehatan global yang masih menjadi sorotan utama di berbagai negara, termasuk Indonesia. Stunting merupakan kondisi di mana anak tidak mendapatkan nutrisi yang cukup selama masa tumbuh kembangnya.

Imbasnya, pertumbuhan fisik dan kognitif anak jadi terhambat yang tidak hanya terasa di usia anak-anak tapi juga hingga dewasa. Sebagai masalah kesehatan global, stunting menjadi perhatian serius karena berdampak pada kesehatan anak di masa sekarang dan masa depan. Selain itu, stunting juga akan berdampak negatif pada kualitas sumber daya manusia di masa yang akan datang.

Definisi Stunting Menurut WHO dan Kemenkes

Menurut World Health Organization (WHO) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia, stunting adalah kondisi yang terjadi pada anak ketika tinggi badannya lebih pendek dari standar usianya. Stunting bisa terjadi ketika anak tidak mendapatkan nutrisi yang cukup, terutama pada masa 1000 hari pertama kehidupan anak (dari konsepsi atau awal kehamilan hingga usia dua tahun).

Faktor lain yang dapat menyebabkan stunting adalah infeksi berulang, sanitasi yang buruk, dan air yang tidak bersih. Stunting juga merupakan kondisi ketidakcukupan gizi pada anak yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak anak.

10 Ciri-Ciri Stunting yang Wajib Diwaspadai

Stunting mengacu pada sebuah jenis kekurangan nutrisi yang memengaruhi pertumbuhan secara linear atau tinggi badan anak. Adapun ciri-ciri stunting, yakni antara lain sebagai berikut:

1. Tubuhnya pendek

Berdasarkan grafik pertumbuhan WHO, anak yang mengalami stunting memiliki tinggi badan lebih pendek dari anak seusianya, atau di bawah minus dua atau tiga standar deviasi dari angka median tinggi badan ideal. Hal ini pun menjadi ciri stunting yang paling mudah dideteksi.

2. Simpanan otot dan lemak yang rendah

Ciri-ciri stunting berikutnya adalah simpanan otot dan lemak yang rendah. Anak yang mengalami stunting memiliki simpanan otot dan lemak yang rendah, sehingga membuat mereka rentan terserang infeksi dan masalah kesehatan lainnya.

3. Pertumbuhan motorik yang lambat

Anak yang mengalami stunting dapat mengalami keterlambatan pertumbuhan yang lambat dan memiliki koordinasi yang buruk. Anak juga memiliki keterampilan motorik halus yang terbatas seperti menggenggam atau memegang benda.

4. Pertumbuhan kognitif yang lambat

Anak yang mengalami stunting biasanya mengalami keterlambatan dalam perkembangan kognitifnya, sehingga kemampuannya untuk belajar, bernalar, dan berkomunikasi jadi terbatas. Mereka juga akan kesulitan mengingat dan berkonsentrasi.

5. Sistem kekebalan tubuh yang lemah

Sistem kekebalan tubuh lemah pada anak yang mengalami stunting membuat mereka rentan terkena infeksi dan gangguan kesehatan lainnya. Respon tubuhnya terhadap vaksin juga berkurang.

6. Kurang berenergi

Anak yang mengalami stunting cenderung kurang berenergi dan tidak seaktif anak-anak sebaya mereka. Mereka juga mudah lelah dan kesulitan mengikuti anak lainnya.

7. Kurang nafsu makan

Nafsu makan pada anak yang mengalami stunting cenderung rendah, dan dapat berkontribusi lebih jauh pada asupan malnutrisi yang dialami serta tumbuh kembangnya. Selain itu, mereka juga cenderung kesulitan mencerna makanan atau menyerap nutrisi.

8. Rewel dan mudah marah

Anak yang mengalami stunting bisa saja rewel dan mudah marah karena nutrisi yang buruk serta masalah kesehatan lainnya. Kesulitan tidur dan sering terbangun di malam hari juga bisa jadi di antara ciri-cirinya.

9. Terlambat bisa bicara

Anak yang mengalami stunting dapat mengalami keterlambatan dalam mengembangkan kemampuannya berbicara dan kesulitan berkomunikasi. Mereka juga kesulitan memahami dan mengikuti instruksi.

10. Risiko gangguan tumbuh kembang yang meningkat

Terakhir, gangguan tumbuh yang terjadi secara terus menerus merupakan salah satu ciri-ciri stunting yang wajib diwaspadai. Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami gangguan tumbuh kembang, termasuk kognitif, motorik, dan sosial-emosional. Mereka juga bisa jadi kesulitan belajar dan kesulitan mengikuti rekan sebayanya di sekolah.

Kapan Anak Bisa Dikatakan Stunting?

Stunting merupakan kondisi yang ditentukan oleh pendeknya tinggi badan anak-anak dibandingkan dengan tinggi ideal untuk usianya. Stunting sendiri dimulai sejak bayi dalam kandungan, dan efeknya berlanjut hingga setidaknya dua tahun pertama anak sejak lahir. Periode sejak anak dalam kandungan hingga ulang tahun keduanya menjadi jendela paling penting untuk intervensi. Periode ini disebut sebagai 1000 hari pertama, dan intervensi yang dilakukan dapat mengurangi dampak negatif dari stunting.

Cara Mencegah Stunting pada Anak

Setelah paham mengenai ciri-ciri stunting tadi, Ibu pun perlu paham bahwa stunting pada anak dapat dicegah melalui intervensi yang dapat ibu dan keluarga lakukan di rumah pada 1000 hari pertama kehidupan anak. Di periode ini, para ibu dapat menerapkan sepuluh intervensi yang terbukti memberikan anak kesempatan terbaik untuk tumbuh dan berkembang secara maksimal.

Salah satu intervensi terpenting untuk mencegah stunting adalah pemberian ASI. Ibu harus menyusui bayinya di periode satu jam sejak bayi lahir. ASI akan melindungi bayi baru lahir dari infeksi dan mengurangi risiko kematian. Posisi yang tepat membantu ibu menghasilkan lebih banyak ASI untuk anaknya dan mendukung durasi menyusui yang eksklusif dan lebih lama. Bayi yang mengonsumsi ASI secara eksklusif dalam enam bulan pertama tidak membutuhkan air atau makanan atau cairan lain, bahkan di iklim panas sekalipun. ASI menyediakan semua nutrisi dan cairan yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.

Setelah enam bulan, bayi membutuhkan ASI dan makanan pendamping atau MPASI. Makanan pendamping, seperti makanan padat, semi padat, atau lunak yang diberikan bersama ASI, memastikan bayi tumbuh dan berkembang secara maksimal.

Anak-anak berusia antara 6 hingga 24 bulan perlu makan makanan yang sesuai dengan usianya dalam jumlah yang cukup dari berbagai kelompok makanan, seperti biji-bijian, telur, unggas, ikan, daging, produk susu, buah-buahan, dan sayuran. Makanan ini memberi anak berbagai nutrisi yang mereka butuhkan untuk tumbuh sehat dan berkembang sepenuhnya.

Mencuci tangan pengasuh dan anak-anak dengan sabun sebelum menyiapkan dan makan makanan adalah salah satu cara terpenting untuk mencegah masuknya kuman ke dalam makanan dan menghindari diare dan pertumbuhan yang buruk pada anak kecil.

Asupan rutin suplemen vitamin A setelah usia enam bulan dapat mengurangi risiko kematian pada balita hampir seperempatnya di daerah yang kekurangan vitamin A. Asupan suplemen zat besi dan pemberian obat cacing secara teratur melindungi anak dari kekurangan zat besi, anemia, dan tumbuh kembang buruk.

Ibu harus memberi makan anak yang sakit, meskipun nafsu makannya berkurang drastis, dengan peningkatan jumlah makanan dan cairan. Memberi mereka makanan bergizi dalam jumlah kecil dan sering memberi mereka cairan, termasuk ASI, membantu anak pulih lebih cepat.

Remaja perempuan dapat dilindungi dari gizi buruk dan anemia melalui suplementasi zat besi dan asam folat mingguan yang diawasi, pemberian obat cacing dua kali setahun, konseling untuk memperbaiki pola makan mereka, dan pemberdayaan untuk tetap bersekolah dan menghindari pernikahan dini dan kehamilan.

Ibu hamil perlu mengonsumsi makanan yang bervariasi untuk memastikan bahwa anak mereka lahir sehat dan memiliki risiko lebih rendah untuk mengalami stunting, perkembangan yang buruk, atau kematian. Ibu menyusui perlu makan banyak untuk menyimpan energi dan nutrisi yang mereka butuhkan untuk menyusui dengan sukses.

Kesimpulannya, ibu memainkan peran penting dalam mencegah stunting pada anak dengan menerapkan sepuluh intervensi yang telah terbukti selama 1.000 hari pertama kehidupan. Intervensi tersebut meliputi pemberian ASI, pemberian makanan pendamping ASI, cuci tangan pakai sabun, asupan suplemen secara teratur, pemberian makan anak yang sakit, penanganan gizi buruk akut yang parah, serta pemberdayaan remaja putri dan ibu hamil untuk menerapkan perilaku sehat. Intervensi ini dapat membantu ibu memberikan anak mereka kesempatan terbaik untuk tumbuh dan berkembang secara maksimal.

Nutrisi Tambahan untuk Cegah Stunting

Untuk memberikan anak nutrisi tambahan sekaligus mencegah terjadinya stunting, ibu bisa memberi anak PediaSure. PediaSure merupakan tambahan nutrisi yang bermanfaat untuk pertumbuhan serta perkembangan anak.

Beragam varian rasa tersedia, seperti classic milky, vanila, madu, dan cokelat, yang dapat disesuaikan dengan selera anak. PediaSure mengandung arginin, vitamin K2, triple protein, serta DHA, AA, dan Omega-3.

Tak hanya itu, satu gelas PediaSure juga memiliki kandungan gabungan prebiotik FOS dan probiotik L. acidophilus, 14 vitamin, dan 9 mineral. Meskipun memiliki kandungan sukrosa yang lebih rendah hingga 42%, rasa PediaSure tetap lezat dan tersedia dalam berbagai ukuran kemasan yang terjangkau. Oleh karena itu, dukung pertumbuhan anak dengan memberikan PediaSure sebagai sumber nutrisi tambahan yang berkualitas dan nikmat setiap hari.

 

 

 

SOURCE:

Stunting in a nutshell. Retrieved on April 18, 2023, from https://www.who.int/news/item/19-11-2015-stunting-in-a-nutshell

Nutrition Landscape Information System: Help Content. Retrieved on April 18, 2023, from https://apps.who.int/nutrition/landscape/help.aspx?menu=0&helpid=391&lang=EN

Apa itu Stunting. Retrieved on April 18, 2023, from https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1516/apa-itu-stunting

What to Know About Growth Disorders. Retrieved on April 18, 2023, from https://www.webmd.com/children/what-to-know-about-growth-disorders

The stunting syndrome in developing countries - PMC. Retrieved on April 18, 2023, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4232245/