Si Kecil Alami Gangguan Pertumbuhan? Perhatikan Asupan Gizinya!

Si Kecil Alami Gangguan Pertumbuhan? Perhatikan Asupan Gizinya!

1 tahun yang lalu
Dibaca 1,96 ribu
5 Menit membaca

Siapa yang tidak senang bila anaknya tumbuh dan berkembang dengan tubuh yang sehat dan aktif berkegiatan? Beberapa hal ini bisa terjadi bila didukung dengan pemberian asupan nutrisi yang tepat pada si Kecil.

Namun, tak jarang dalam masa pertumbuhan, si Kecil jadi tidak memperoleh cukup kalori dan nutrisi yang tepat. Akibatnya anak jadi kekurangan gizi. Kondisi kekurangan gizi atau yang juga disebut malnutrisi bisa melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga membuatnya lebih mudah mengalami sakit atau infeksi.

Tak hanya itu, kekurangan gizi pada si Kecil akan menghambat proses tumbuh dan kembangnya.

Untuk membantu ibu memahami kondisi anak kurang gizi, berikut informasi terkait tanda-tanda, penyebab, sekaligus cara mengatasinya.

Pentingnya Anak Sekolah Mendapat Asupan Gizi yang Baik

Mungkin Ibu bertanya-tanya apa sih dampak kekurangan gizi pada anak, terutama yang telah memasuki usia sekolah.

Memasuki masa sekolah, sekitar usia 6 hingga 12 tahun, si Kecil membutuhkan asupan nutrisi yang baik untuk menjaga kesehatan tubuh serta mendukung pertumbuhan dan perkembangannya tetap optimal.

Membantu si Kecil untuk memiliki kebiasaan makan yang baik dan memastikan kebutuhan nutrisinya terpenuhi dapat mencegah terjadinya malnutrisi maupun obesitas. Ketika si Kecil mengalami malnutrisi, terutama pada masa sekolah, akan membuatnya mengalami kesulitan belajar, sering sakit, dan pertumbuhan tubuh yang tidak optimal.

Penelitian membuktikan bahwa anak yang tidak terpenuhi kebutuhan nutrisinya sejak dalam kandungan hingga usia sekolah memiliki energi yang kurang dan lebih tidak tertarik belajar. Hal ini tentu berpengaruh besar pada perkembangan kognitif si Kecil.

Tanda-tanda Anak Kurang Gizi

  • Proses tumbuh kembang jadi melambat.
  • Berat badan terus menurun atau proses kenaikan berat badan yang melambat.
  • Kurang aktif dan makan sedikit.
  • Adanya perubahan perilaku, seperti si Kecil jadi mudah merasa cemas, tersinggung, dan lambat dalam mengerjakan sesuatu.
  • Sering mengalami sakit dan memerlukan waktu lama untuk sembuh.
  • Mudah merasa lelah dan lemas saat menjalani aktivitas.

Penyebab Anak Kurang Gizi

  • Memiliki penyakit tertentu, seperti cerebral palsy, fibrosis kistik, jantung bawaan, dan kanker.
  • Mengalami masalah pencernaan.
  • Perubahan perilaku atau psikologis yang membuat si kecil menghindari atau menolak makanan.
  • Si Kecil tidak selera makan.

Cara Memenuhi Nutrisi untuk Anak Kurang Gizi

Cara tepat untuk membantu anak kurang gizi yaitu dengan memenuhi kembali nutrisi yang ia perlukan. Ibu bisa berkonsultasi ke dokter ahli nutrisi. Biasanya dokter akan mengukur berat dan tinggi badan untuk mengetahui apakah si Kecil tergolong dalam kondisi yang masih wajar untuk seusianya.

Selain itu, ibu juga perlu melakukan langkah-langkah seperti di bawah ini:

  • Berikan camilan sehat di antara waktu makan.
  • Pastikan jadwal makannya teratur
  • Ajak anak untuk aktif bergerak
  • Konsumsilah makanan dan minuman yang mengandung tinggi protein dan kalori seperti susu dan produk turunannya. Misalnya keju, yoghurt, dan es krim.

Nutrisi yang Dibutuhkan Anak Usia Sekolah

Lalu, apa saja ya nutrisi yang diperlukan si Kecil yang sudah memasuki usia sekolah? Berikut penjelasannya.

1. Vitamin dan Mineral

Vitamin dan mineral dibutuhkan tubuh si Kecil untuk memelihara kesehatan tubuh dan mendukung perkembangannya. Misalnya saja kalsium dan vitamin D yang membantu pertumbuhan tulang si Kecil.

Vitamin atau mineral mudah didapatkan dari konsumsi buah dan sayur secara rutin dan konsisten. Khusus untuk vitamin D dapat diperoleh dari sinar matahari.

2. Makanan Pokok atau Karbohidrat

Makanan pokok atau karbohidrat adalah nutrisi yang tidak boleh dilewatkan si Kecil. Karbohidrat memberikan energi untuk tubuh si Kecil bisa beraktivitas sehari-hari.

3. Protein

Anak yang tidak mendapatkan cukup protein biasanya sering mengalami masalah kesehatan seperti kelelahan, sulit konsentrasi, pertumbuhan lambat, nyeri sendi dan tulang, serta masalah pada daya tahan tubuh.

4. Lemak Baik

Lemak tak jenuh seperti asam lemak omega 3 memiliki peran besar dalam perkembangan kognitif si Kecil. Beberapa makanan sumber lemak baik seperti alpukat dan kacang-kacangan.

5. Olahan Susu

Olahan susu juga menjadi salah satu asupan nutrisi yang tidak boleh ketinggalan lho Bu! Berbagai olahan susu yang bisa Ibu sajikan untuk si Kecil misalnya keju atau yogurt.

6. Air

Selain makanan, kebutuhan cairan si Kecil juga perlu diperhatikan. Pastikan si Kecil minum air putih 6 hingga 8 gelas sehari.

Selain nutrisi, pola asuh orang tua terhadap perkembangan anak juga sangat besar lho Bu! Bahkan, penelitian membuktikan bahwa gaya pola asuh anak sejak usia dini memiliki pengaruh besar pada perkembangan kognitifnya. 

Menerapkan pola asuh yang responsif gender atau menerapkan kesetaraan apapun jenis kelamin anak tidak hanya memiliki pengaruh baik pada perkembangan kognitif si Kecil tapi juga perkembangan sosial dan emosionalnya lho Bu!

PediaComplete Bantu Penuhi Nutrisi Anak Kurang Gizi

Jika si kecil masih menunjukkan tanda kurang gizi, segeralah konsultasi ke dokter. Dokter bisa merekomendasikan penggunaan PediaSure Complete yang kini sudah berubah nama menjadi PediaComplete. Salah satu susu yang bisa ibu berikan jika si Kecil kurang gizi yaitu PediaSure Complete. Namun, sekarang berubah nama menjadi PediaComplete.

PediaComplete merupakan pangan olahan untuk keperluan medis khusus sebagai dukungan nutrisi pada anak berisiko gizi kurang. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk penggunaan produk. PediaComplete dapat dibeli dengan resep Dokter. Produk dibeli di e-commerce Abbott official store, rumah sakit, serta apotek.

Kandungan PediaComplete diformulasikan dengan nutrisi lengkap dan seimbang oleh ahli nutrisi demi bantu mendukung pertumbuhan anak yang berisiko faltering growth (gagal tumbuh).

Pembaharuan formula PediaComplete dari formula sebelumnya, selain padat energi dengan 0% sukrosa, kini ada penambahan AA & DHA untuk mendukung pertumbuhan kognitif anak yang berisiko faltering growth (gagal tumbuh).

Di dalamnya juga mengandung Prebiotik FOS dan laktosa yang rendah sehingga bagus untuk dukung kesehatan saluran cerna, ada campuran lemak nabati dengan MCT 19% yang lebih mudah diserap sebagai sumber energi, tiga protein, 14 vitamin & 9 mineral yang bagus untuk pertumbuhan fisik maupun imunitas. PediaComplete juga memiliki rasa enak disukai anak.

PediaComplete, nutrisi padat energi yang direkomendasikan dokter untuk anak dengan diagnosis memiliki kebutuhan kejar tumbuh, berat badan kurang, anak dengan grafik pertumbuhan di bawah normal, anak yang picky eater atau small eater. Sebagai catatan PediaComplete hanya bisa dibeli dengan rekomendasi dokter anak dan hanya dijual di rumah sakit, apotek, toko obat berlisensi, dan official store Abbott di e-commerce.

 

 

 

Sumber:

The role of nutrition in children's neurocognitive development, from pregnancy through childhood - PMC. Retrieved 08 November 2022, from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3607807/ 

School-age nutrition & fitness - Raising Children Network. Retrieved 08 November 2022, from https://raisingchildren.net.au/school-age/nutrition-fitness  

Nutrition Requirements for School Age Children -  . Retrieved 08 November 2022, from https://healthyeating.sfgate.com/nutrition-requirements-school-age-children-3781.html 

Protein for Child Development - Abbott. Retrieved 08 November 2022, from https://www.nutritionnews.abbott/pregnancy-childhood/kids-growth/why-is-protein-important-for-kids-growth/ 

Nutrition for School-Aged Children - Healthy Ventura County. Retrieved 08 November 2022, from https://www.healthyventuracounty.org/healthy-kids/healthy-eating-for-kids/nutrition-and-school-aged-children/  

Parenting Style to Support The Cognitive Development of Early Childhood - Jurnal Iqra' : Kajian Ilmu Pendidikan - Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung. Retrieved 08 November 2022, from https://journal.iaimnumetrolampung.ac.id/index.php/ji/article/view/1614