Yuk, Pahami Hubungan Angka Stunting dengan Tinggi dan Berat Badan Anak!

Yuk, Pahami Hubungan Angka Stunting dengan Tinggi dan Berat Badan Anak!

7 bulan yang lalu
Dibaca 2,15 juta
3 Menit membaca

Artikel ini telah direview oleh dr. Prawira W.

Tingginya angka stunting di Indonesia membuat banyak orang tua wajib memantau dan memperhatikan tinggi dan berat badan anak.

Pasalnya, pertambahan tinggi badan anak pada masa tumbuh kembang merupakan salah satu penanda kuat pertumbuhan yang sehat. Pertambahan tinggi badan juga terkait erat dengan perkembangan otak dan keterampilan berbahasa. Anak yang terlalu pendek untuk standar usianya dianggap mengalami kondisi yang disebut stunting.

Prevalensi Stunting di Indonesia dan Dunia

Nyatanya, prevalensi stunting tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara di seluruh dunia. Tahukah Anda bahwa sekitar 22% anak di seluruh dunia di bawah usia 5 tahun mengalami stunting, sebuah kondisi yang ditandai oleh pertumbuhan yang terhambat?

Dalam tinjauan global mengenai malnutrisi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun, lebih dari setengah dari semua anak yang mengalami stunting hidup di Asia, atau mencakup 53% dari total kasus di seluruh dunia.

Artinya, lebih dari satu dari dua anak yang terdampak stunting tinggal di Asia.

Angka ini menunjukkan bahwa stunting merupakan masalah yang sangat serius di Asia, meski angka stunting di dunia telah menurun sejak tahun 2000, kemajuan yang lebih cepat diperlukan untuk mencapai target 2030.

Sebagai pembanding, berikut adalah detail prevalensi stunting di beberapa negara di Asia dan Australia:

  • Di Indonesia, 1 dari 3 anak mengalami stunting
  • Di Thailand, 1 dari 8 anak mengalami stunting
  • Di Singapura, 1 dari 33 anak mengalami stunting
  • Di Filipina, 1 dari 3 anak mengalami stunting
  • Di Myanmar, 1 dari 4 anak mengalami stunting
  • Di Malaysia, 1 dari 5 anak mengalami stunting
  • Di Laos, 1 dari 3 anak mengalami stunting
  • Di India, 1 dari 3 anak mengalami stunting
  • Di Kamboja, 1 dari 3 anak mengalami stunting
  • Di Australia, 1 dari 48 anak mengalami stunting

Data tersebut menunjukkan bahwa prevalensi stunting bervariasi di Asia dan Australia. Namun di Indonesia, seperti halnya di Filipina, Laos, India, dan Kamboja, sedikitnya satu dari tiga anak mengalami stunting dan menghadapi risiko jangka panjang yang dapat berdampak pada tumbuh kembang anak-anak penderita stunting.

Angka Stunting di Indonesia

Di Indonesia, stunting sendiri dianggap sebagai salah satu permasalahan gizi utama pada balita yang belum teratasi. Menurut data Riset Kesehatan (Riskesdas) Kemenkes Indonesia, prevalensi balita dengan status pendek dan sangat pendek mencapai 30,8% pada tahun 2018, sementara untuk anak di bawah dua tahun, prevalensi pada tahun 2018 mencapai 29,9%.

Berdasarkan SSGI atau Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, di 34 provinsi di Indonesia, angka stunting di Indonesia mencapai angka 21,6% di tahun 2022. Data stunting WHO, meski menurun, prevalensi tersebut masih tergolong ke dalam kategori tinggi sebab angkanya masih berada di atas 20%.

Apa Itu Stunting?

Pertanyaannya, apa sih yang dimaksud dengan stunting? Pada dasarnya, stunting lebih dari sekadar pendek. Stunting adalah masalah kesehatan yang dapat berdampak buruk pada kesehatan dan perkembangan anak.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang ditandai dengan panjang atau tinggi badan anak berada di bawah standar.

Di antara konsekuensi jangka pendek dari stunting antara lain, meningkatnya kerentanan anak terhadap penyakit, dan menurunnya kemampuan anak untuk belajar. Sementara itu, dalam jangka panjang, stunting dapat menghambat kemajuan pendidikan anak, menghambat pertumbuhan tinggi badan saat dewasa, dan pendapatan yang lebih rendah saat dewasa.

Makanya, pencegahan stunting dan pemahaman mengenai hal ini harus diketahui sejak dini.

Menurut WHO, stunting merupakan masalah besar untuk tumbuh kembang anak. Akar masalah dari stunting adalah ketidakcukupan nutrisi dan terjadinya infeksi secara berulang-ulang selama 1000 hari pertama kehidupan anak, sehingga dampaknya terjadi dalam jangka panjang, termasuk berkurangnya kapasitas kognitif dan fisik, berkurangnya produktivitas, dan meningkatnya risiko penyakit degeneratif seperti diabetes.

Dari segi ekonomi, stunting juga memiliki dampak besar. Diestimasikan anak yang mengalami stunting akan memiliki pemasukan 20% lebih rendah dibandingkan dengan orang dewasa yang tumbuh tanpa mengalami stunting.

Kabar baiknya, stunting bisa dicegah dan ditangani. Langkah pertama adalah mengukur dan membandingkan tinggi badan anak dengan standar tumbuh kembang dari Kemenkes atau WHO.

Pemerintah, pembuat keputusan, dan komunitas dalam skala kecil dapat berperan untuk memperbaiki nutrisi dan kesehatan ibu hamil, menerapkan intervensi agar untuk pemberian ASI yang lebih baik dan optimal, serta makanan pendamping ASI. Dalam skala komunitas, yang dapat dilakukan adalah memperbaiki kualitas air, sanitasi, dan kebersihan diri dan lingkungan untuk melindungi anak dari infeksi dan penyakit yang disebabkan oleh lingkungan.

Bagaimana Cara Mendeteksi Stunting?

WHO saat ini telah mengembangkan grafik tinggi badan untuk usia yang dapat digunakan secara global.

Mari kita lihat bagan ini, di mana kita membandingkan tinggi badan anak perempuan dan laki-laki normal berusia 3 tahun dengan anak laki-laki berusia 3 tahun yang pendek. Apakah Anda mengamati perbedaan tinggi badan pada dua set anak laki-laki (merah vs hijau)?

angka-stunting-dan-cara-mendeteksi

Jika mengacu pada standar pertumbuhan anak WHO, anak berusia 0-59 bulan yang dalam skala tinggi-untuk-usia-nya di bawah minus 2 standar deviasi, atau di bawah garis merah terbawah (-2 SD), dia termasuk mengalami stunting sedang dan parah, sementara jika berada di bawah minus 3 standar deviasi, maka anak tersebut masuk ke dalam kategori stunting parah.

Apa Penyebab stunting?

Tingginya angka stunting disebabkan oleh, salah satunya, adalah gizi buruk, dan hal ini dapat dilihat dari segi kecukupan, penyerapan, dan pemanfaatan gizi. Penjelasannya sebagai berikut:

1. Kecukupan nutrisi

Berbicara mengenai asupan makanan, baik kualitas maupun kuantitas makanan sangat berpengaruh. Ketidakseimbangan jumlah dan jenis nutrisi tertentu dapat berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Setiap nutrisi memainkan peranan pentingnya masing-masing dalam proses tumbuh kembang anak. Contohnya, karbohidrat dibutuhkan untuk memproduksi energi, sementara protein penting untuk membentuk otot. Vitamin dan mineral juga dibutuhkan untuk menopang beragam fungsi tubuh seperti pembentukan tulang yang sehat dan kuat.

2. Penyerapan nutrisi

Nutrisi yang dikonsumsi harus diserap dengan baik oleh tubuh. Infeksi saluran pencernaan yang menyebabkan diare dapat menyebabkan terjadinya gizi buruk akibat ketidakmampuan tubuh menyerap nutrisi dengan baik. Diare yang berulang-ulang terutama pada anak dapat memberikan dampak negatif pada pertambahan tinggi dan berat badan.

3. Pemanfaatan nutrisi

Setelah dikonsumsi dan diserap, nutrisi perlu dimanfaatkan oleh tubuh agar dapat berfungsi dengan baik. Beberapa nutrisi biasanya dimanfaatkan dengan lebih baik daripada lainnya, contohnya, Vitamin K2 (MK-7) yang lebih efektif dibandingkan dengan Vitamin K1 dalam mengaktifkan osteocalcin untuk mengantarkan kalsium ke tulang, dan lainnya.

Jika anak Anda mengalami stunting atau berisiko mengalami stunting, harap konsultasikan dengan dokter Anda untuk penilaian yang tepat.

Bagaimana Cara Mengatasi Stunting?

WHO, melalui dokumen berjudul Global Nutrition Targets 2025 - Stunting Policy Brief telah memberikan sejumlah rekomendasi yang dapat diterapkan sebagai salah satu upaya untuk mencegah dan mengatasi stunting, di antaranya sebagai berikut:

1. Meningkatkan asupan nutrisi ibu hamil

Untuk meningkatkan asupan nutrisi ibu hamil, dibutuhkan asupan makanan seimbang dan nutrisi yang tepat sehingga baik ibu maupun janinnya tetap sehat. Nutrisi yang dibutuhkan untuk itu makanan kaya protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Selain itu, nutrisi lain yang dapat membantu mengurangi risiko bayi lahir kekurangan berat badan adalah tambahan asupan zat besi maupun asam folat.

2. Memberikan ASI eksklusif

6 bulan pertama kehidupan bayi menjadi masa yang tepat untuk memberikan ASI eksklusif terutama karena ASI mengandung nutrisi yang dibutuhkan bayi. Selain itu, ASI juga dapat memberikan bayi kekebalan alami. Selepas usia 6 bulan, ibu dapat memberikan bayi makanan pendamping ASI yang cukup sehingga kebutuhan nutrisi tambahan tetap bisa didapatkan. Di samping itu, pemberian ASI tetap dianjurkan hingga anak berusia setidaknya 2 tahun.

3. Memperhatikan asupan makanan pendamping

Ketika bayi memasuki usia dapat mengonsumsi makanan pendamping, sedianya ibu memperhatikan kandungan nutrisi dari makanan tersebut. Pastikan agar makanan pendamping mengandung nutrisi yang cukup agar kebutuhan nutrisi anak selalu tercukupi sesuai dengan usianya. Perhatikan kandungan vitamin dan mineral serta protein dan pastikan anak mendapatkan nutrisi-nutrisi tersebut sesuai kebutuhannya.

4. Mempermudah akses terhadap air bersih, sanitasi, serta kebersihan

Masalah pencernaan seperti diare yang berulang-ulang bisa jadi merupakan konsekuensi dari kualitas air dan kebersihan yang kurang baik. Oleh sebab itu, akses ke air bersih, sanitasi, dan kebersihan yang baik dapat menjadi salah satu upaya mencegah dan mengatasi risiko stunting pada anak. Selain diare, akses air bersih, sanitasi, dan kebersihan yang baik dapat menghindarkan anak dari beragam penyakit lain seperti malaria, cacingan, dan penyakit lainnya.

5. Memberikan anak pola asuh yang responsif dan lingkungan yang baik

Baik pola asuh yang responsif maupun lingkungan sekitar yang suportif dapat menjadi salah satu cara menjaga perkembangan anak agar sehat secara fisik maupun mental. Tidak hanya itu, lingkungan yang baik dapat memberikan anak untuk bukan sekadar belajar dan bermain, tapi juga meningkatkan perkembangan kognitif serta motoriknya.

6. Mempermudah akses layanan kesehatan dan gizi

Ibu yang memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan serta informasi asupan gizi yang memadai dapat membantu ibu memantau pertumbuhan anak secara tepat. Selain memahami pertumbuhan anak, ibu juga mendapatkan akses terhadap skrining untuk mendeteksi adanya malnutrisi serta pengobatan jika terjadi malnutrisi baik pada ibu maupun anak. Dengan demikian, baik anak maupun ibu bisa mendapatkan nutrisi yang tepat.

7. Menerapkan program perlindungan sosial

Adanya program perlindungan sosial penting agar keluarga rentan mendapatkan akses kepada makanan, layanan kesehatan, serta kebutuhan dasar lainnya untuk kesehatan dan tumbuh kembang anak.

8. Memberdayakan masyarakat

Keterlibatan masyarakat dapat mencakup mengajarkan masyarakat mengenai pengetahuan tentang nutrisi dan memberikan akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk membantu keluarga agar mereka selalu mendapatkan kebutuhan gizi dan nutrisi untuk baik ibu maupun anaknya.

9. Memberikan nutrisi yang tepat untuk ibu hamil

1000 hari pertama yang krusial pada anak terhitung sejak anak berada di dalam perut ibunya. Untuk itu, kecukupan nutrisi ibu hamil tidak kalah penting. Dengan menjaga kesehatan ibu hamil dan janin, diharapkan agar baik ibu dan bayi selalu sehat dan mendapatkan nutrisi yang cukup selama masa kandungan dan setelah melahirkan.

Jika anak Anda pilih-pilih makanan atau Anda khawatir dia tidak makan makanan yang seimbang dan bervariasi, pertimbangkan untuk memberikan suplemen nutrisi anak yang lengkap dan seimbang untuk membantu meningkatkan asupan nutrisinya dan mendorong pertumbuhan kejar.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada anak-anak stunting di Vietnam, sekitar 4 dari 10 anak sembuh dari stunting setelah 6 bulan mengonsumsi suplemen gizi anak sebagai bagian dari makanan sehari-hari.

Untuk itu, mengambil tindakan lebih cepat lebih baik karena intervensi dini dapat membantu pertumbuhan anak Anda agar kembali ke jalurnya. Apalagi menambah tinggi badan tidak semudah meningkatkan berat badan. Itulah pentingnya intervensi dini agar anak dapat tumbuh kembang dan mencapai potensialnya serta mengurangi risiko penyakit yang terkait dengan stunting.

Salah satu intervensi yang dapat dilakukan untuk memastikan anak mendapatkan gizi adalah memberikan anak Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK).

PKMK adalah pangan olahan yang diproses atau diformulasikan secara khusus untuk manajemen diet bagi orang dengan penyakit atau gangguan tertentu, seperti halnya anak yang mengalami stunting. Dalam kondisi stunting, anak memerlukan makanan dengan komposisi zat gizi tertentu, baik sebagai makanan pengganti maupun tambahan.

Namun, PKMK tidak dapat dikonsumsi sembarangan, melainkan harus di bawah pengawasan dokter. PKMK sendiri hanya boleh diedarkan di apotek, rumah sakit, dan/atau Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Tanpa pengawasan dokter, konsumsi PKMK bisa jadi berisiko karena tidak tepat sasaran atau tidak sesuai aturan penggunaan.

Pada kasus stunting, PKMK juga dapat menjadi makanan pelengkap atau makanan pengganti. Contohnya, jika bayi alergi terhadap ASI, PKMK dapat dijadikan pengganti gizi yang dibutuhkan. Namun, pastikan agar tidak melakukan diagnosis sendiri dan konsultasikan dengan dokter agar dokter dapat mengawasi perkembangan anak dalam pemberian PKMK.

Asupan Nutrisi Tambahan yang Lengkap dan Seimbang

Untuk membantu si Kecil yang memiliki masalah pertumbuhan seperti stunted, wasted, atau malnutrisi berdasarkan diagnosa tenaga kesehatan, Ibu dapat meminta rujukan dokter untuk pemberian nutrisi tinggi kalori salah satunya dengan rangkaian produk dari Abbott Products Indonesia

Abbott Products Indonesia berkomitmen untuk selalu mendukung penurunan kejadian stunting dengan rangkaian produk nutrisi berupa PKMK untuk dukungan nutrisi bagi anak berisiko gagal tumbuh, gizi kurang, atau gizi buruk. Baca info di bawah ini untuk ketahui lebih lanjut mengenai rangkaian produk PediaSure untuk dukungan nutrisi kejar tumbuh.

Jangan lupa juga untuk terus pantau kemajuan pertumbuhan si Kecil dengan Growthpedia Calculator secara berkala, ya!

 

 

SOURCE: 

WHO: Stunting in a nutshell. Retrieved on July 12, 2023, from https://www.who.int/news/item/19-11-2015-stunting-in-a-nutshell 

Levels and trends in child malnutrition: UNICEF/WHO/The World Bank Group joint child malnutrition estimates: key findings of the 2021 edition. Retrieved on July 12, 2023, from https://www.who.int/publications/i/item/9789240025257 

Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. Retrieved on July 12, 2023, from https://ayosehat.kemkes.go.id/pub/files/files46531._MATERI_KABKPK_SOS_SSGI.pdf 

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2019 TENTANG PENANGGULANGAN MASALAH GIZI BAGI ANAK AKIBAT PENYAKIT. Retrieved on July 12, 2023, from https://yankes.kemkes.go.id/unduhan/fileunduhan_1658478608_397796.pdf  

Gejala Stunting yang Harus Diwaspadai. Retrieved on July 12, 2023, from https://promkes.kemkes.go.id/gejala-stunting-yang-harus-diwaspadai 

Global nutrition targets 2025: stunting policy brief. Retrieved on July 12, 2023, from https://www.who.int/publications/i/item/WHO-NMH-NHD-14.3 

Kurva Pertumbuhan WHO. Retrieved on July 12, 2023, from https://www.idai.or.id/professional-resources/kurva-pertumbuhan/kurva-pertumbuhan-who 

Stop stunting. Retrieved on July 12, 2023, from https://www.unicef.org/india/what-we-do/stop-stunting