Mengenal Silent Disease pada Anak dan Cara Penanganannya

Mengenal Silent Disease pada Anak dan Cara Penanganannya

1 bulan yang lalu
Dibaca 699
5 Menit membaca

Penyakit bisa menyerang siapa pun, termasuk bayi dan anak-anak. Saat penyakit menyerang bayi atau anak-anak, Ibu akan menyadarinya lewat gejala yang dirasakan si kecil. Tapi, tahukah Ibu bahwa ada juga penyakit yang tidak bergejala atau disebut silent disease yang juga bisa dialami anak?

Biasanya, silent disease pada anak baru diketahui setelah melakukan medical check up. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai silent disease dan cara penanganannya, yuk simak penjelasannya di bawah ini!

Apa itu Silent Disease pada Anak?

Silent disease adalah suatu penyakit yang tidak menimbulkan gejala atau tanda yang jelas secara klinis. Banyak penyakit muncul secara diam-diam dan mulai tampak jelas ketika sudah di stadium lanjut atau kondisinya semakin parah.

Apa saja Silent Disease yang Terjadi Pada Anak?

Ada beberapa silent disease yang bisa menyerang anak-anak, antara lain:

1. Anemia Defisiensi Besi

Anak yang kekurangan zat besi memiliki risiko negatif dalam proses perkembangannya dan juga berisiko mengalami anemia.

Zat besi adalah nutrisi penting untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Sebab, zat besi membantu memindahkan oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh dan membantu otot menyimpan dan menggunakan oksigen.

Kekurangan zat besi pada anak ada beberapa tingkatan, mulai dari defisiensi ringan hingga anemia defisiensi besi, yakni darah tidak memiliki cukup sel darah merah sehat sehingga memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Sayangnya, kekurangan zat besi pada anak tidak menunjukkan gejala hingga berkembang menjadi anemia defisiensi besi.

Gejala anemia defisiensi besi mungkin, antara lain:

        Kulit pucat

        Kelelahan

        Tangan dan kaki dingin

        Pertumbuhan dan perkembangan melambat

        Nafsu makan buruk

        Pernafasan cepat, tidak normal

2. Tuberkulosis (TBC)

Tuberkulosis (TB) adalah infeksi (kronis) berkelanjutan yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Ibu, TBC tak hanya menginfeksi paru-paru, tetapi juga bisa memengaruhi ginjal, tulang belakang, atau otak. TBC paling sering menular melalui droplet (percikan pernapasan) yang mengandung bakteri M. tuberculosis dari orang yang terinfeksi TBC.

TBC pada anak merupakan silent disease. Sebab, anak yang berkontak dengan penderita TB sangat mungkin tes darah TB dan tes kulitnya negatif, rontgen dada normal, dan tidak ada gejala.

3. Gagal Hati pada Anak

Hati merupakan salah satu organ penting di dalam tubuh manusia yang berperan untuk menyaring zat beracun atau berbahaya dari darah dan membantu mencerna makanan. Organ ini juga menyimpan dan melepaskan energi pembuat protein untuk membangun sel-sel tubuh dan jaringan dan mencegah pembekuan darah.

Gagal hati terjadi ketika hati rusak, baik sebagian atau seluruhnya. Meskipun ini jarang terjadi, gagal hati dapat terjadi bahkan pada anak-anak. Sering kali penyebabnya tidak diketahui.

4. Cacat Jantung Bawaan

Cacat jantung bawaan terjadi pada sekitar 1 dari setiap 100 kelahiran akibat jantung atau pembuluh darah di sekitar jantung tidak berkembang dengan benar. Cacat jantung, baik yang ringan maupun parah, akan mengganggu kemampuan jantung bekerja optimal.

Untuk mengetahui kelainan jantung bawaan yang serius, dapat diketahui dengan skrining bayi 24 jam setelah kelahiran. Namun, beberapa kelainan jantung bawaan seperti cacat septum atrium (lubang di dinding jantung) baru dapat terdiagnosis ketika anak berusia belasan tahun atau lebih.

5. Infeksi Saluran Kemih

Infeksi saluran kemih (ISK) kerap dialami anak-anak, tercatat 8 persen dialami anak perempuan dan 2 persen dialami anak laki-laki hingga usia 5 tahun.

Namun penyakit ini sulit dikenali. Beberapa anak yang mengalami ISK mungkin mengalami gejala tidak jelas seperti demam, menangis saat buang air kecil, rewel, muntah, hingga diare.

ISK ini bisa disebabkan karena bakteri dari tinja bayi masuk ke saluran kemih melalui kelamin dan berkembang di kandung kemih.

ISK perlu mendapat perhatian para tenaga kesehatan dan orangtua karena sering menyebabkan gagal ginjal pada anak yang mengakibatkan anak memerlukan tindakan cuci darah (dialisis) dan cangkok ginjal (transplantasi ginjal).

Penyakit gagal ginjal juga termasuk silent disease karena gejalanya sulit dilihat pada tahap awal, termasuk pada anak-anak.

Ciri-ciri Silent Disease

Banyak pandangan yang menganggap bahwa berat badan yang tidak berkembang merupakan karakteristik atau ciri-ciri anak silent disease. Nyatanya tidak demikian.

Kenaikan berat badan anak tak melulu karena kondisi medis tertentu, tetapi berkaitan dengan praktik pemberian makan, mulai dari jumlah, jenis makanan, dan tekstur yang perlu disesuaikan dengan usia anak.

Dalam literatur medis, silent disease merupakan nama lain dari penyakit hipertensi atau darah tinggi. Kebanyakan kasus darah tinggi ini tidak menimbulkan gejala.

Jenis tekanan darah tinggi yang paling umum adalah hipertensi primer, yakni tak ada masalah medis lain yang menyebabkan darah tinggi. Biasanya hipertensi primer terjadi pada orang obesitas dan keturunan.

Jenis kedua adalah hipertensi sekunder, ada masalah medis yang menyebabkan tekanan darah tinggi. Hipertensi sekunder sering disebabkan oleh:

        Penyakit ginjal

        Hormon

        Masalah pembuluh darah

        Masalah paru-paru

        Masalah jantung

        Obat